Ketua Agupena Semarang

Ketua Agupena  Semarang
Roto, S.Pd

Siapa pemenang serial Gatutkaca vs Dursasana?

Selasa, 09 Maret 2010

Menyimak serial cicak (KPK) versus buaya (kepolisian), di dalamnya merambah ke lembaga kejaksaan. Belum usai kasus tersebut, munculah kasus terbaru Bank Century, konon diduga ada penyimpangan dana sebesar Rp 6,7 triliun. Ingatan saya tergugah pada cerita pewayangan yang melibatkan perseteruan antara Gatutkaca keturunan Pendawa (Amarta) berkonotasi sifat-sifat kejujuran & kebenaran versus Dursasana prajurit Kurawa (Astina) yang berkonotasi sifat-sifat serakah, dengki, srei atau pengikut kejahatan.

Siapakah Amarto atau Amarta itu? Amarta adalah suatu kerajaan yang berpenghuni saudara kandung yang berjumlah lima orang, disebutlah Pandawa lima, yang terdiri-dari Puntodewa/Yudhistira, Werkudara/ Bratasena, Janaka/Permadi dan sikembar Nakula serta Sadewa yaitu digambarkan orang-orang yang selalu berperilaku jujur, santun, tenang, tidak pongah, tidak sombong dan ditakdirkan untuk melawan angkara murka. Di dalamnya ada nama Gatutkaca. Gatutkaca adalah anak dari Werkudara dengan Arimbi.

Gatutkaca (Satrio Pringgodani) digambarkan sebagai pembela kebenaran dan penegak keadilan. Gatutkaca berpembawaan jujur, tenang, otot kawat balung wesi dan bisa terbang dengan Kotang Onto Kusumo. Karena kepandaiannya itulah banyak anak-anak mengagumi pada tokoh Gatutkaca tersebut. Terlebih dia bisa terbang. Maka bukan sesuatu yang aneh jika pesawat terbang kita diberi sebutan Gatutkaca.

Sedang Kurowo atau Astina, digambarkan sebagai suatu kerajaan yang dihuni oleh para angkara murka, berperilaku jahat, mengakali orang lain, untuk dibodohi, dikibuli dan sebagainya. Setiap akhir cerita dengan ending Kurawa di dalamnya ada prajurit yang bernama Dursasana. Dursasana diilustrasi sebagai orang yang banyak bicara, tertawa, berkoar-koar, mengaku pemberani, sakti, kuat, perkasa dan lain-lain. Namun faktanya mereka selalu kalah dan belum pernah sekalipun menang dalam setiap adegan suatu cerita. Ia selalu dikalahkan dengan kejujuran dan kebenaran.

Negara Astina sebenarnya milik Pendawa yang dititipkan kepada Duryudana, dengan patihnya Sengkuni (karena Pendawa waktu itu masih kecil atau anak-anak). Kemudian ada penasihat raja yang disebut Pendito Durno, disebut juga sebagai guru. Fungsi sebagai guru, ia juga mempunyai murid orang Kurawa dan sekaligus orang Pendawa. Pendawa saat sebagai murid Pendito Durno, dia (Pendawa) tidak pernah membangkang/melawan sang guru, sekalipun mereka akan dijebak agar mati oleh Durno, hasutan raja Kurawa. Apa yang diperintah sang guru selalu di jalankan.

Contoh: Werkudara diperintah sang guru untuk mendapatkan susuh angin yang berada di tengah Samudra, dengan tujuan agar mereka mati di dalam laut. Werkudara tidak pernah takut, maka berangkatlah mereka. Dengan keteguhan hati, bersungguh- sungguh pantang menyerah, dia mempercayai perintah sang guru adalah benar. Karena keteguhan dan kegigihan itulah bukannya mereka mendapat celaka, namun justru sebaliknya, ia mendapat pertolongan serta kesaktian yang di luar dugaan yang ia pikirkan. Simpulannya kejujuran dan kebenaran adalah di atas segala-galanya.

Maka, siapa pun orang Jawa terutama penggemar bahkan pengagum cerita wayang, akan merasa tersinggung dan sakit hati jika sampai mendapat paraban atau sebutan sebagai kelompok orang Kurawa. Mereka akan merasa tersanjung, terhormat dan bangga jika mendapat sebutan sebagai kelompok orang Pendaw.

Lalu apa korelasinya dengan cerita cicak versus buaya? Masyarakat berasumsi dan meyakini bahwa kebenaran akan mampu mengalahkan angkara murka. Sepandai-pandai bajing meloncat pasti akan jatuh juga. Artinya siapa pun yang pandai bersilat lidah dan sejenisnya, akhirnya mereka akan terjebak oleh perilakunya juga.

Dalam skenario testimoni, transkrip, atau apa pun namanya yang sedang marak, dan kita saksikan pada bulan belakangan ini, antara oknum kejaksaan, KPK, kepolisian dan seterusnya timbul pertanyaan besar, siapakah yang akan terperosok ke dalamnya? Masyarakat dibuat terkuras emosinya untuk mengikuti dunia kebohongan, kemunafikan dengan membawa-bawa ranah agama dalam sumpahnya. Sayang akhirnya sebagian masyarakat yang diwakili Egy Sujana dan kawan-kawan (dalam acara Debat tvOne, 2-12-2009) menjadi kecewa karena persoalan cicak versus buaya tidak sampai ke kursi pengadilan.

Dunia memang panggung sandiwara, kata Achmad Albar. Kapankah akan segera terkuak drama panggung sandiwara tersebut? Masyarakat menafsirkan, memang Indonesialah gudangnya pemain drama andal hingga mendunia. Namun, drama tersebut bukannya menghibur masyarakat, faktanya justru menjerumuskan ke lembah penderitaan dan kemiskinan. Seperti contoh kasus Minah pencuri 3 buah kakau, disusul pencuri sebuah semangka dan lain-lainnya.

Dengan berkembangnya budaya bohong untuk menutupi kerakusannya dalam berperilaku korup jelasjelas sangat bertabrakan dengan janji- janji presiden terpilih saat berkampanye sebelum pemilu pada bulan Juli yang lalu. Untuk itu dukungan riel sekaligus kritik konstruktif layak kita kumandangkan untuk mendorong terealisasinya pemberantasan korupsi di negeri ini.

Maka, masyarakat sangat bangga akan perjuangan para mahasiswa yang menyuarakan kebenaran, kejujuran demi kesejahteraan rakyatnya. Namun sayang di balik perjuangan para mahasiswa dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan, sayang terkotori oleh perilaku oknum mahasiswa yang saling serang sesama kawan mahasiswa. Kapan hal tersebut mahasiswa mampu menghentikan perilaku menyimpang tersebut? Para mahasiswa sendirilah yang mau mengakhiri semua itu, sehingga rasa kesamaan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan akan lebih mudah terwujud.

Masyarakat mau percaya kepada siapa? Lunturlah tingkat kepatuhan warga negara terhadap oknum mahasiswa dan oknum aparatur negara yang pandai memainkan drama kebohongan tersebut.

Siapakah yang akan terperosok, sekaligus terbukti sebagai Gatutkaca dan atau justru diluar skenario terbukti menjadi Dursasana? ’’Aduh kasihan deh lu, jika terbukti sebagai Dursasana, maka hotel prodeolah tempatnya, atau paling tidak dilengserkan dari jabatannya.” Namun, jika terbukti sebagai Gatutkaca, janganlah engkau congkak dan sombong, sebab Gatutkaca adalah satria piniji linuwih dan tidak pernah memamerkan kepandaian dan kesaktiannya.

Akankah fakta kebohongan dan kebobrokan moral busuk segera terungkap? Masyarakat dengan berdebar- debar menunggu hasilnya dan mempercayakan kepada pihakpihak yang berkepentingan, untuk segera mampu mengungkapnya, sehingga pada saatnya nanti negara kita tercinta segera terbebas dari perilaku Dursasona, yang sangat-sangat memalukan dunia. Semoga.

Roto
Mahasiswa Pascasarjana UMS

0 komentar:

Posting Komentar