Ketua Agupena Semarang

Ketua Agupena  Semarang
Roto, S.Pd

Hasil-hasil Rakernas

Senin, 08 November 2010

Oleh Deni Kurniawan As'ari

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) AGUPENA yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat, telah berakhir dua minggu lalu. Tiba saatnya setiap personil yang tergabung dalam wadah ini untuk menjabarkan dan mengimplementasikan segala hasil Rakernas menjadi sebuah program yang nyata.


Rakernas yang diikuti oleh pengurus pusat dan pengurus wilayah yang telah terbentuk dilaksanakan di Gedung PLB Nasional Jakarta Selatan, 1-2 Oktober 2010. Hadir pengurus wilayah dari Sulawesi Tenggara, Papua, NTB (Nusa Tenggara Barat), Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Sumatra Selatan (Sumsel), Sumatra Barat (Sumbar) dan Jambi.


Acara Rakernas yang sedianya akan dibuka oleh Pembina AGUPENA -yang sekaligus Wakil Mendiknas- itu akhirnya dibuka oleh Direktur Profesi Pendidikan PMPTK RI (Prof. Dr. Ahmad Dasuki) mewakili Wamendiknas secara resmi. Wamendiknas sendiri secara mendadak harus mengikuti rapat dengan Menteri Keuangan. Pak Dasuki dalam sambutannya mengatakan bahwa keberadaan AGUPENA sangat penting dan strategis di tengah upaya pemerintah untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas pendidik di Indonesia. Beliau sempat berujar, ” Ketika masih banyak guru yang tidak mampu menulis, maka di situ peluang AGUPENA untuk berkiprah dan membantu mereka.”


Setelah dua hari peserta Rakernas mencurahkan segala potensi dan daya pikirnya, maka dihasilkan beberapa program kerja yang perlu ditindaklanjuti oleh pengurus pusat maupun pengurus wilayah dan cabang.


Beberapa hasil itu diantaranya perubahan logo AGUPENA dan program lima tahun ke depan. Secara lebih lengkap sebagai berikut :


Administrasi
Penyusunan Dokumentasi:
A.Perencanaan
B.Pelaksanaan Kegiatan
C.Pelaporan


Kesekretariatan:
A.Nomor Surat dengan kaidah:
No Surat/Jenis Surat/AGP-Prop.Kode Kab/Bulan Berjalan/Tahun Berjalan
B.Stempel sesuai dengan yang sudah ada, dengan penghilangan kata “SELURUH”
C.Logo, dengan perubahan baru

Pembuatan SK Pengurus, Sertifikat/Piagam Penghargaan bagi anggota dan pengurus yang berprestasi dan sertifikat kegiatan

Registrasi dan Pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang dibuat di tingkat wilayah


Organisasi
1. Mempersiapkan pembentukan dan pelaksanaan Rakernas;
2. Penyusunan Program Kerja;
3. Konsolidasi Organisasi dan Rapat Rutin
4. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Pengurus propinsi secara periodik;
5. Mengidentifikasi segala permasalahan krusial yang terkait dengan jalannya organisasi yang ditindaklanjuti oleh kepengurusan wilayah;
6. Melakukan kajian, konsultasi dan advokasi terhadap segala bentuk kebijakan pemerintah dan masalah-masalah krusial yang dihadapi Anggota dengan Instansi terkait;
7. Pendataan dan Peningkatan Mutu Guru Penulis
8. Mengadakan Seminar, Simposium, Lokakarya atau Workshop;
9. Pengembangan Profesi Guru baik melalui peningkatan jenjang atau Pangkat, Kualifikasi Akademik, Uji Kompetensi, maupun sertifikasi Profesi(terutama profesi guru penulis dan kepenulisan)


Kebijakan :
1. Memberikan masukan kepada pemerintah dan atau penentu kebijakan yang terkait dengan pendidikan dan profesi Guru;
2. Mengawal dan memberi masukan terhadap pelaksanaan Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 atau peraturan lain yang terkait dengan profesi Guru;
3. Merespon dan memberikan masukan terhadap berbagai isu-isu yang berkembang terkait dengan pendidikan dan profesi Guru;
4. Membangun sinergi dengan instansi terkait dalam upaya pemberdayaan Guru sebagai profesi;


KEPENULISAN DAN KEPENERBITAN
1. Menyusun buku, modul, Karya Tulis Ilmiah / KTI dan buku referensi yang sesuai dengan yang diampunya serta pedoman penyusunan dan penulisannya.
2. Membuat pedoman dan contoh prinsip-prinsip pengembangan kurikulum oleh Agupena Pusat
3. Memfasilitasi guru agar berpotensi menjadi penulis dengan cara mengadakan workshop dan konsultatif kepenulisan.
4.Memberikan panduan dan advokasi kepada guru untuk kenaikan pangkat dalam bentuk penulisana karya ilmiah
5.Mengupayakan lobi ke tim penilai angka kredit atau sertifikasi pada institusi Diknas atau terkait dalam bentuk mengikutsertakan pengurus Agupena menjadi anggota atau mitra dalam penilaian.
6.Mengadakan Agupena Award perkatagori (Fiksi dan Nonfiksi)
7.Melakukan seleksi dan pengajuan pemenang dari wilayah
8.Memberikan reward dalam bentuk sertifikat, piala dan cendramata
9. Membuat pedoman rancangan media dan sarana pembelajaran
10. Menerbitkan buku atau hasil karya anggota Agupena

Kesra
1.Mengadakan silaturahim dan monitoring keterlaksanaan program kerja, yang teknis pelaksanaannya tergantung wilayah masing-masing.
2.Melaksanakan terobosan dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru, diantaranya untuk mempermudah para guru dalam proses sertifikasi.
3.Membantu anggota masyarakat yang terkena musibah dan bencana alam, fakir misikin, kaum dhuafa, dan warga masyarakat di pulau-pulau terdepan nusantara (daerah perbatasan).
4.Dalam upaya mencari dana untuk melaksanakan berbagai kegiatan, Agupena lebih intensif mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dan donatur, selain meminta bantuan kepada pemerintah.


Tentu saja, Agupena sebagai sebuah wadah yang relatif baru usianya pasca ditinggalkan pendiri dan sekaligus ketua umum pertama, bapak Alm. Achjar Chalil perlu terus berbenah dan menata diri. Segenap pengurus di semua tingkatan paturt bersinergi agar ke depan organisasi ini betul-betul diraskan manfaatnya.


Memang tidak mudah mewujudkan sebuah organisasi profesi yang bisa eksis di tengah keterbatasan dana yang mendera. Namun kerja keras dari semua pengurus dan dukungan luar biasa dari para pembina, dan pemerintah tidak mustahil wadah ini ke depannya mampu menjadi corong yang lebih berarti bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Semoga!




Tantangan Penelitian Tindakan Kelas

Senin, 05 Juli 2010

Oleh Roto
GEMA guru dalam menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI), terlebih Penelitian Tindakan Kelas (PTK), pada tahun belakangan menggembirakan. Sedang sebagian guru lain berpandangan PTK merupakan tantangan, rintangan sekaligus momok menakutkan. Menurut Muhamad Zayuri (dosen Unnes) dalam sarasehan mata pelajaran (mapel) Seni Budaya di SMP 2 Ungaran, 9 Juni 2010, menyatakan bahwa PTK dapat dikategorikan penelitian yang paling sederhana.

Pembicaraan PTK mulai marak diperdebatkan, namun sebagian besar guru belum melaksanakan, sebab dalam keseharian guru lebih fokus pada pekerjaan administrasi sekolah dan sekaligus sibuk dalam kegiatan bermasyarakat. Itulah alibi yang sering terdengar di kalangan guru, bahkan lebih tragis lagi, mereka berdalih faktanya antara pengorbanan pembuatan PTK dengan pangkat yang diperoleh sangat tidak sepadan dengan gaji yang mereka dapatkan.

Secara akademis PTK mempunyai tujuan yang teramat mulia yaitu mengatasi problem yang ada di kelasnya. Siapapun pelaku guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pasti tidak lepas dari problem menjabarkan pokok materi di kelasnya. Persoalannya, bagaimanakah cara melakukan PTK?

Strategi Praktis
Adapun cara sederhana dan praktis yang dapat dijadikan pembanding untuk melaksanakan PTK adalah: pertama, guru mapel menginventarisir persoalan yang dihadapi di kelasnya. Adapun contoh persoalan yang dihadapi guru, diantaranya, mulai dari: a) persoalan KBM, tentang perlengkapan media; minat; dan sikap; b) persoalan Kompetensi Dasar (KD); alokasi waktu yang tersedia, dan lain-lain; c) persoalan sarana dan prasarana sekolah; d) persoalan metode pembelajaran, maksudnya metode apakah yang harus dipakai pada pokok bahasan tertentu. Misalnya: membuat patung; benda pakai; melukis kreasi; sejarah seni rupa dan lain-lain, tentu membutuhkan metode yang berbeda-beda.

Kedua, setelah guru menemukan persoalan yang ada, langkah berikut adalah menentukan masalah yang harus segera dicarikan alternatif pemecahannya. Masalah yang hendak dipecahkan adalah benar-benar terjadi di kelasnya.

Ketiga, setelah masalah ditentukan, kemudian guru berfikir metode yang harus dipakai untuk mengatasi persoalannya. Misal, masalah materi gambar bentuk pada kelas VII. KD tentang menggambar bentuk, berbentuk elips. Langkah yang dipikirkan guru adalah bagaimana caranya agar siswa mudah dan cepat dapat menggambar benda berbentuk elips tersebut, dalam waktu sesingkat-singkatnya. Maka, metode apa yang harus dipilih. Contoh, metode penggabungan demonstrasi dan metode melihat benda (objek) sebenarnya.

Keempat, setelah guru menentukan metode, langkah selanjutnya menjelaskan pengertian metode yang dipilih, diawali dari menjelaskan metode tersebut, menurut pendapat para pakar, yang bersumber dari internet dan terutama dari buku penelitian. Dengan catatan kutipan tersebut harus dituliskan secara lengkap dari sumbernya, dan jelaskan plus minusnya dari metode yang dipilih. Selanjutnya guru merangkum/ berpendapat dikaitkan dengan kondisi kelas dan materi ajarnya, yang menggambarkan kondisi yang diharapkan.

Dari uraian materi di atas, dapat disimpulkan guru telah melakukan pembuatan proposal, yang di dalamnya mencakup gambaran dari Bab I, II dan III.

Kelima, sampailah pada praktik melakukan PTK di kelasnya. Proposal itulah yang dapat dijadikan pedoman melakukan PTK dalam praktik sebenarnya. Pelaksanaan praktik PTK diperlukan pendamping yang disebut kolaborator.

Kolaborator yang dipilih adalah guru serumpun yang lebih senior (dalam arti senior ilmunya) atau menggunakan guru lain yang dipandang lebih memahami proses KBM, dan atau secara otomatis menggunakan kepala sekolahnya. Kepala Sekolah berfungsi sebagai pemberi ijin, penilai Rencana Pembelajaran (RP), sekaligus sebagai nara sumber untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Dalam praktik sebenarnya, guru akan mengenal istilah siklus. Proses penelitian diawali dari kondisi pra siklus, yaitu merencanakan, melaksanakan, pengamatan dan refleksi. Pada pra siklus guru memaparkan kondisi keadaan kelas, yang di dalamnya berisi nilai di kelas tersebut rata-rata terendah. Selanjutnya sampailah pada siklus satu, dan dua (paling sedikit dua siklus). Setelah ditemukan kepuasan, dalam arti nilai yang diperoleh telah melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mencapai lebih dari atau samadengan 85 persen, berarti penelitian telah berakhir, selanjutnya ditindak lanjuti dengan pelaporan.

Oleh ROTO, Pendidik SMP1 Sumowono, Ketua Agupena Kab. Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UMS

Rujukan:
1. Pengalaman sebagai guru 26 tahun; pengalaman menyusun PTK dan pengalaman
mengikuti pelatihan penilaian Penetapan Angka Kredit di solo Desember 2009;
pengalaman mendampingi bimbingan PTK di Agupena Kabupaten Semarang 2010.
2. Pertanyaan & jawaban di sekitar Penelitian Tindakan Kelas & Tindakan Sekolah, oleh Suharjono.
3. Makalah Suharsimi Arikunto, dalam pelatihan penilaian pengembangan profesi di hotel Kusuma Sahid Solo.
4. PTK 2007, oleh Prof. Suharsimi Arikunto, Prof. Suharjono dan Prof. Supardi.

(Terbit pada Jawa Pos Radar Semarang, 4 Juli 2010)